KOWAL TNI DAN SPIRIT IBADAH DALAM PENGABDIAN (Ketika Bela Negara Menjadi Jalan Kesalehan Sosial)
Oleh: Dr. H. Susilo Surahman, S.Ag., M.Pd., MCE.*)
Di tengah ruang publik yang kian bising oleh perdebatan di media sosial—tentang identitas, peran perempuan, hingga krisis keteladanan kita kerap lupa bahwa ada bentuk pengabdian yang berjalan senyap, disiplin, dan nyaris tanpa sorotan. Pada 5 Januari 2026, Hari Korps Wanita Angkatan Laut (KOWAL) kembali hadir sebagai momentum refleksi: bahwa di balik seragam dan tugas negara, terdapat nilai spiritual yang dalam, yakni ibadah dalam wujud pengabdian.
Peringatan Hari KOWAL bukan sekadar penanda sejarah berdirinya korps perempuan di lingkungan TNI Angkatan Laut. Lebih dari itu, ia adalah ruang kontemplasi tentang makna bela negara di tengah perubahan zaman. Saat sebagian orang berlomba menampilkan diri, KOWAL justru bekerja dalam ketertiban, keteguhan, dan kesetiaan pada amanah. Di sinilah pengabdian menemukan maknanya yang paling luhur.
Secara tegas perlu dikatakan: pengabdian KOWAL bukan hanya tugas profesional, melainkan juga bentuk ibadah sosial. Dalam perspektif keagamaan, ibadah tidak terbatas pada ritual personal, tetapi juga mencakup segala aktivitas yang diniatkan untuk kemaslahatan bersama. Menjaga kedaulatan, melindungi wilayah laut, serta mengabdi kepada bangsa dan negara adalah bagian dari amal saleh ketika dijalankan dengan niat yang benar dan cara yang bermartabat.
Nilai ini sejalan dengan ajaran agama tentang amanah. Al-Qur’an menegaskan pentingnya menunaikan amanah kepada yang berhak dan menetapkan keadilan dalam setiap tanggung jawab. Amanah bukan hanya urusan lisan, tetapi kerja nyata yang menuntut integritas dan pengorbanan. KOWAL, dalam peran dan kedudukannya, memikul amanah tersebut menjadi bagian dari pertahanan negara sekaligus penjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Di tengah realitas sosial hari ini, kita menyaksikan paradoks yang menggelisahkan. Teknologi menghadirkan kecepatan informasi, namun sering kali mengikis kedalaman makna. Viralitas mengalahkan kualitas, popularitas menggeser keteladanan. Akibatnya, ruang publik miskin figur yang bekerja dalam senyap demi kepentingan bersama. Pada titik inilah etos KOWAL menjadi relevan: disiplin yang konsisten, loyalitas yang tidak gaduh, dan pengabdian yang tidak menuntut tepuk tangan.
Pengabdian semacam ini juga merepresentasikan konsep jihad dalam makna yang substantif kesungguhan, kerja keras, dan pengorbanan demi kebaikan yang lebih luas. Jihad tidak selalu identik dengan konflik, melainkan ikhtiar sungguh-sungguh untuk menjaga kehidupan, martabat, dan masa depan bangsa. Dalam konteks ini, bela negara adalah jalan kesalehan sosial, tempat nilai spiritual bertemu dengan tanggung jawab kebangsaan.
Isu peran perempuan yang kerap viral pun menemukan jawabannya di sini. Kehadiran KOWAL menegaskan bahwa perempuan memiliki ruang strategis dalam pengabdian publik tanpa harus kehilangan identitas dan nilai keagamaannya. Islam, sebagaimana nilai-nilai luhur bangsa, memuliakan perempuan sebagai subjek amanah dan agen kemaslahatan. Ketika perempuan diberi ruang untuk berkontribusi secara bermartabat, masyarakat justru menjadi lebih kuat dan berimbang.
KOWAL juga mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu identik dengan suara yang lantang. Ada kekuatan dalam ketekunan, ada wibawa dalam ketertiban, dan ada keindahan dalam pengabdian yang dijalankan dengan ikhlas. Dalam hadis disebutkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Prinsip ini tercermin dalam kerja-kerja KOWAL yang langsung bersentuhan dengan kepentingan publik, meski jarang disorot.
Sebagai bangsa maritim, Indonesia membutuhkan ketangguhan bukan hanya pada alat utama sistem pertahanan, tetapi juga pada karakter para pengabdinya. KOWAL menghadirkan kombinasi antara profesionalisme dan nilai moral dua hal yang sering kali terpisah dalam praktik kehidupan modern. Ketika tugas dijalankan sebagai amanah dan ibadah, maka disiplin tidak terasa sebagai beban, melainkan panggilan nurani.
Pada akhirnya, Hari KOWAL mengajak kita merenung: tentang arti pengabdian di tengah budaya instan, tentang makna ibadah di luar ruang ritual, dan tentang kesalehan yang bekerja dalam diam. Di tengah dunia yang gaduh oleh pencitraan, KOWAL mengingatkan bahwa ibadah tertinggi kadang justru dilakukan dalam kesunyian pengabdian setia pada tugas, jujur pada amanah, dan tulus demi negeri. Selamat Hari Korps Wanita Angkatan Laut (KOWAL)
*) Penulis adalah Ketua Dewan Pimpinan Daerah – Persatuan Tarbiyah Islamiyah (DPD PERTI) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
(Unzn)











