Idul Adha selalu menjadi refleksi atas pentingnya pengorbanan sosial dan spiritual dalam konteks membangun bangsa dan negara. Maka itu, semangat kolektif dari segenap elemen bangsa dan negara tentunya akan berkontribusi untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran di negeri ini. Sekaligus akan mewujudkan nilai-nilai cinta kasih, – dan ketaatan dalam menggapai Indonesia emas.
Semua itu telah diuraikan secara panjang dan lebar oleh Prof. H. Wan Jamaluddin Z., M.Ag., Ph.D., Rektor Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, dalam khutbah Shalat Idul Adha 10 Zulhijjah 1446H/6 Juni 2025 M., Tingkat Kenegaraan di Masjid Istiqlal, Jakarta. Khutbah Yang bertema: “Menebar Cinta Kasih Melalui Ibadah Kurban”.
Shalat Idul Adha di Masjid Istiqlal tersebut juga dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia H. Prabowo Subianto, yang mana bertepatan pula dengan penyerahan hewan kurban dari Beliau kepada pihak Pengurus Masjid Istiqlal. Selain itu, Sholat Idul Adha menjadi lebih khidmat dengan kehadiran berbagai unsur masyarakat, perwakilan negara asing, pejabat publik dari Kementerian dan Lembaga, serta organisasi massa keagamaan. Maka itu pula, DPP PERTI (Dewan Pimpinan Pusat – Persatuan Tarbiyah Islamiyah) turut hadir sebagaimana Undangan Shalat Idul Adha 2025 oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. DPP PERTI diwakili oleh Dr. Undrizon, S.H., M.H., dalam kapasitas
selaku Sekretaris Jenderal DPP PERTI, serta Erbasri selaku Anggota Dewan Syuro Pusat.
Lantas, Prof. H. Wan Jamaluddin Z., M.Ag., Ph.D., selanjutnya menukil tentang arti penting rekonstruksi sejarah masa lalu. Sejarah kehidupan figur-figur agung para kekasih Allah, yaitu: Nabi Ibrahim AS, sang anak hebat Nabi Ismail, dan sang Ibu luar biasa, Siti Hajar. Mereka telah menunjukan ketaatan dan ketundukan total kepada Allah Swt. Ketika perintah Allah datang kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, – Beliau tidak ragu, tidak menawar-nawar, dan tidak mengeluh. Begitu pula Nabi Ismail AS., yang dengan penuh keyakinan dan tawakal, berkata: “wahai ayah ku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepada mu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As Saffat: 102).

Ibadah kurban bukan hanya sekadar seremonial penyembelihan hewan. Di balik itu ada nilainilai spiritual dan sosial. Kurban adalah bentuk aktualisasi dari cinta kasih. Cinta kepada Allah yang
ditunjukkan dengan ketaatan, – dan cinta kepada sesama manusia yang ditunjukkan melalui berbagi.
Lebih jauh, sebagaimana diutarakannya, bahwa di tengah kondisi kehidupan masyarakat yang masih menghadapi kesulitan ekonomi, ibadah kurban menjadi sangat relevan. Sebagian besar daging hewan kurban disalurkan kepada kaum fakir, miskin, yatim, dan kaum yang tergolong ekonomi lemah. Sehingga dari dimensi ini, kita bisa memahami bahwa Islam bukan hanya mengajarkan tentang hubungan vertikal antara manusia dan Allah, tetapi juga hubungan horizontal antara manusia dan sesamanya.
Dalam konteks membangun bangsa dan negara, maka semangat kurban adalah semangat kolektif. Para pemimpin dituntut untuk rela berkurban demi kepentingan rakyat, berkorban waktu, tenaga, bahkan kenyamanan pribadi demi membangun negeri ini agar menjadi negeri yang adil dan makmur. Itu sebabnya. kepemimpinan bukan soal kekuasaan semata, tapi tentang keberanian menanggung beban
demi orang lain. Inilah pemimpin sejati yang mampu meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim. Sementara itu, rakyat pun tidak boleh menjadi sebatas penonton. Setiap dari kita memiliki peranan. Jika setiap lapisan masyarakat rela berkorban dan memberikan yang terbaik sesuai perannya, maka visi Indonesia emas akan terwujud sebagaimana yang telah direncanakan.
Terlepas dari semua itu, menurut Dr. Undrizon, S.H., M.H., bahwa berangkat dari nilai-nilai yang terkandung dari Idul Adha, mestinya transformasi peradaban terkait seremonial kurban mampu
memberikan konstruksi bagi kebudayaan nasional yang luhur dan berkualitas. Ritualitas kurban juga memberikan ruang-ruang bagi penyimbangan peradaban secara alamiyah terkait dinamika zaman. Hal itu akan sangat dibutuhkan dalam usaha-usaha mewujudkan tujuan nasional yang sesungguhnya. (Unzn)










