BIOGRAFI DAN KARYA CERPENIS INDONESIA
Prof. Dr. Kuntowijoyo, juga salah seorang fungsionaris Organisasi Massa Keislaman, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), khususnya tatkala Beliau pernah berkiprah selaku pengurus pada LEKSI PERTI (Lembaga Kesenian Islam – Persatuan Tarbiyah Islamiyah). Meskipun beliau juga seorang tokoh dan atau Pakar, klas nasional dalam dimensi keilmuan Seni (Sastra), Budayawan. Dalam ini, lebih lanjut terkait cerita kehidupan Prof. Dr. Kuntowijoyo, juga sengaja dirilis oleh WordPress.com, pada 12 November 2017, utamanya pada sudut cerpen, bahwa Prof. Dr. Kuntowijoyo adalah seorang sejarawan, budayawan, maupun sastrawan yang sangat produktif. Kuntowijoyo lahir di Sanden, Bantul, Yogyakarta pada 18 September 1943. Ia mendapatkan pendidikan formal keagamaan di Madrasah Ibtidaiyah di Ngawonggo, Klaten. Pada 1964 ia menulis novel pertamanya yang berjudul Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari, yang kemudian dimuat sebagai cerita bersambung di harian Djihad tahun 1966. Pada 1968, cerpennya yang berjudul Dilarang mencintai Bunga-bunga memperoleh hadiah pertama dari majalah Sastra. Setelah itu melanjutkan sekolah di Klaten (SMP) dan Solo (SMA), melanjutkan kulah di Universitas Gadjah Mada dan lulus menjadi sarjana sejarah pada tahun 1969. Gelar MA diperoleh dari Universitas Connecticut, Amerika Serikat pada tahun 1974, yang disusul dengan gelar Ph.D Ilmu Sejarah dari Universitas Columbia pada tahun 1980.
Semasa kuliah, dia sudah akrab dengan dunia seni dan teater. Dia mendirikan dan menjabat sebagai sekretaris Lembaga Kebudayaan dan Seniman Islam (Leksi) dan ketua Studi Grup Mantika hingga 1971 (beliau mendirikan Studi Grup Mantika bersama Dawam Rahardjo, Sju’bah Asa, Chaerul Umam, Arifin C. Noer, Amri Yahya, Ikranegara, dan Abdul Hadi W.M.). Kuntowijoyo dijuluki sebagai seorang sejarahwan beridentitas paripurna karena dia menjalani hidup di beragam habitat dan identitas itu. Dia guru besar sejarah di Universitas Gadjah Mada. Pengarang berbagai judul novel, cerpen dan puisi. Pemikir dan penulis beberapa buku tentang Islam. Kolomnis di berbagai media. Aktivis berintegritas di Pendiri Muhammadiyah. Sangat sering menjadi penceramah di masjid. Dan sebagainya.
Sejak masih duduk di SMA ia menulis cerita pendek, kemudian drama, esai, roman. Baru ketika bermukim di Amerika Serikat untuk mencapai gelar MA dan Ph.D., ia menulis sajak, sekaligus dua buah kumpulan Isyarat (1976) dan Suluk Awang Uwung (1976). Cerpennya dimuat dalam majalah ”Horison”, harian ”Kompas”, dan terpilih menjadi cerpen terbaik harian Kompas, yakni Laki-laki yang Kawin dengan Peri (1994), Sampan Asmara dan Pistol Perdamaian (1995). Tulisannya berupa esai juga banyak dimuat di surat kabar. Gagasannya yang sangat penting bagi pengembangan ilmu sosial di Indonesia adalah idenya tentang Ilmu Sosial Profetik (ISP). Bagi Kuntowijoyo, ilmu sosial tidak boleh berpuas diri dalam usaha untuk menjelaskan atau memahami realitas dan kemudian memaafkannya begitu saja tapi lebih dari itu, ilmu sosial harus juga mengemban tugas transformasi menuju cita-cita yang diidealkan masyarakatnya. Ia kemudian merumuskan tiga nilai dasar sebagai pijakan ilmu sosial profetik, yaitu: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Ide ini kini mulai banyak dikaji.
Kendati menjalani hidup dalam keadaan sakit, semenjak mengalami serangan virus meningo enchepalitis pada 6 Januari 1992, dia terus berkarya sampai detik-detik akhir hayatnya. Prof Dr Kuntowijoyo, yang akrab dipanggil Pak Kunto, ini meninggal dunia di Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta, Selasa 22 Februari 2005 pukul 16.00 akibat komplikasi penyakit sesak napas, diare dan ginjal. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka Jl Ampelgading 429, Perumahan Condongcatur dan di Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM). Dikebumikan Rabu 23 Februari 2005 di Makam Keluarga UGM di Sawitsari, Yogyakarta. Dia meninggalkan seorang istri, Drs Susilaningsih MA yang dinikahi pada 8 November 1969, beserta dua putra, yakni Punang Amaripuja dan Alun Paradipta. Kuntowijoyo adalah orang yang tekun, pekerja keras, dan berintegritas tinggi. Meskipun dalam kondisi sakit, ia tetap berkarya.
Sumber: WordPress.com
(Unzn)












